BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dunia Tanpa Sekolah Kisah nyata
seorang anak usia 15 Tahun yang terpenjara oleh sekolah formal. diterbitkan
tahun 2007.
Penulisnya, M. Izza Ahsin, adalah remaja berusia 15 tahun yang terpenjara oleh dinamika sekolah formal yang memangkas kreatifitasnya
untuk belajar dengan caranya, ia pun mengulas sejarahnya hingga dapat menerbitkan novel ini. Tentu saja novel ini bukan karya
non-fiksi walaupun ada beberapa kalimat-kalimat
penggugah yang akan menyentuh idealis para pembaca yang bersifat fantastis
serta akan sedikit menabrak paradikma berpikir kita yang selama ini menganggap
sekolah formal adalah tempat yang paling menentukan untuk mengangkat drajad manusia
dalam segi figuriatas masyarakat modrent.
Dengan mengkaji sosiologi sastra novel ini, kita dapat mengetahui gambaran
kehidupan tokoh dan masyarakat sekitar serta nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Sebagai remaja yang hidup di lingkungan sosial masyarakat dan dianggap meyimpang karena ingin melawan arus dengan belajar menggunakan
caranya, bahkan hingga meninggalkah bangku sekolah yang menurutnya menyita
waktu belajarnya. Ia terus
mengejar mimpinya.
Teori yang cocok untuk mengkaji hal tersebut adalah teori sosiologi sastra
dari Rene Wellek dan Austin Warren. Teori sosiologi sastra dari dua tokoh
tersebutlah yang digunakan dalam makalah ini melalui karya yang sedikitnya merupakan beografi penulis.
B. Tujuan
Tujuan penulisan makalah
ini adalah untuk mengetahui penggambaran kehidupan dalam novel Dunia Tanpa
Sekolah, khususnya untuk mengetahui hubungan sosial tokoh utama dengan lingkungan yang ada disekitarnya. kemudian
membansingkannya dengan kehidupan sosial yang ada saat ini.
C. Perumusan Masalah
- Kajian sosial yang tergambarkan lewat unsur dalam novel Dunia Tanpa Sekolah?
- Kajian kehidupan sosial masyarakat dalam Dunia Tanpa Sekolah bandingan dengan masyarakat masa kini?
BAB II
Landasan Teori
A. Sosiologi Sastra Wellek dan Warren
Konsep sosiologi sastra yang dikemukakan Wellek dan Warren melibatkan
sosiologi pengarang, sosiologi karya dan sosiologi pembaca. Makalah ini menitik beratkan
kepada sosiologi karya sastra. Sosiologi karya sastra maksudnya adalah isi
karya sastra, tujuan serta hal-hal lain yang tersirat dalam karya sastra itu
sendiri dan yang berkaitan dengan masalah-masalah sosial. Sosiologi karya
mencakup beberapa pendekatan, pertama, pendekatan yang mempelajari sastra
sebagai dokumen sosial, sebagai potret kenyataan sosial. Kedua, dokumen sosial
sastra dipakai untuk menguraikan ikhtisar sosial. Ketiga, penelusuran tipe-tipe
sosial. Keempat, perlunya pendekatan linguistik.
B.
Strukturalisme
Genetik
Sebelum melakukan pengkajian sosiologi sastra, sebelumnya dilakukan
pengkajian strukturalisme terlebih dahulu. Strukturalisme mengkaji unsur-unsur
pembentuk karya sastra.
Unsur-unsur
intrinsik novel menurut Lucien Goldmann adalah :
1)
Akar cerita atau gagasan utama yang sekaligus memaknai
keseluruhan isi cerita;
disebut juga tema.
2)
Plot; alur cerita, alur yang mengembang menjadi
cerita.
3)
Garis edar, yaitu alur kecil yang fungsinya
mempertemukan para tokoh.
4)
Latar adalah tempat di mana tokoh melaksanakan
tugasnya dalam rangka keseluruhan cerita. Latar dibagi dua, yaitu secara
geografis dan secara antropologis. Secara geografis berarti tempat secara
materi seperti di rumah, di kantor, dan sebagainya. Latar antropologis berarti
lingkungan sosial budaya, moral etika, budaya tradisi, pemikiran, dan
lain-lain.
5)
Penokohan, yaitu tokoh-tokoh ciptaan yang merupakan
pelaksana cerita. Tokoh dibagi menjadi dua, yaitu tokoh utama dan tokoh
pendukung. Menurut karakternya, tokoh berkarakter baik disebut protagonis,
tokoh berkarakter sebaliknya disebut antagonis.
6)
Sudut pandang yang digunakan penulis.
7)
Atmosfer, yaitu situasi tokoh seperti suasana hati,
pikiran, atau juga keadaan sekitarnya.
C.
Moral
Moral (Bahasa
Latin Moralitas) adalah istilah
manusia menyebut kemanusia atau orang lainnya dalam tindakan yang memiliki
nilai positif. Manusia yang tidak memiliki moral disebut amoral artinya dia
tidak bermoral dan tidak memiliki nilai positif dimata manusia lainnya.
Sehingga moral adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh manusia. Moral secara
ekplisit adalah hal-hal yang berhubungan dengan proses sosialisasi individu
tanpa manusia tidak bisa melakukan proses sosialisasi. Moral dalam zaman
sekarang memiliki nilai implisit karena banyak orang yang memiliki moral atau
skap amoral itu dari sudut pandang yang sempit. Moral itu sifaf dasar yang
diajarkan disekolah-sekolah dan manusia harus memiliki moral jika ia ingin
dihormati sesamanya.
Moral
adalah nilai keabsolutan dalam kehidupan bermasyarakat secara utuh. Penilaian
terhadap moral diukur dari kebudayaan masyarakat setempat. Moral adalah
perbuatan atau tingkah laku atau ucapan seseorang dalam berinteraksi dengan
manusia. Apabila dilakukan seseorang itu sesuai dengan nilai rasa yang berlaku
di masyarakat tersebut dan dapat diterima serta menyenangkan lingkungan
masyarakatnya, maka orang itu dinilai memiliki moral yang baik, begitu juga sebaiknya.
Moral adalah produk dari budaya dan agama. Setiap budaya memiliki standar moral
yang berbeda-beda sesuai dengan sistem nilai yang berlaku dan telah terbangun
sejak lama.
D.
Sosiologi sastra
menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia (1989; 855) sosiologi sastra merupakan pengetahuan
tentang sifat dan perkembangan masyarakat mengenai sastra, karya, para,
kritikus, dan sejarawan yang terutama mengungkapkan pengarang yang dipengaruhi
oleh status lapisan masyarakat tempat ia berasal, ideologi polotik dan sosialnya,
kondisi ekonomi serta halayak yang ditujunya. Sosiologi merupakan ilmu
pengetahuan kemasyarakatan umum yang merupakan hasil terakhir dari pada
perkembangan ilmu pengetahuan. Sosiologi lahir pada saat-saat terakhir
perkembangan ilmu pengetahuan, oleh karena sosiologi didasarkan pada
kemajuan-kemajuan yang telah dicapai ilmu-ilmu pengetahuan lainnya.
Camte
berkata bahwa sosiologi dibentuk berdasarkan pengamatan dan tidak pada
spekulasi-spekulasi perihal keadaan masyarakat dan hasil-hasil observasi tersebut
harus disusun secara sistematis dan motodologis (Sukamto, 1982: 4).
Sastra
dapat dipandang dari sebagai suatu gejala sosial. Sastra yang ditulis pada
suatu kurun waktu tertentu langsung berkaitan dengan norma-nora dan adat
istiadat zaman itu. Pengarang mengubah karyanya selaku seorang warga masyarakat
pula (Luxenburg, Bal, dan Willem G. W. Terjemahan Dick Hartoko. 1084: 23).
Pendekatan
sosiologi sastra jelas merupakan hubungan antara sastra dan masyarakat, literature is an expreesion of society, artinya
sastra adalah ungkapan perasaan masyarakat. Maksudnya masyarakat mau tidak mau
harus mencerminkan dan mengekspresikan hidup (wellek dan Werren, 1990: 110).
Hubungan
yang nyata antara sastra dan masyarakat oleh Wellek dan Werren dapat diteliti
melalui :sosiologi pengarang, sosiologi karya sastra dan sosiologi pembaca.
BAB III
PEMBAHASAN
A. Kajian
Struktural
a.
Unsur Instrinsik
Unsur intrinsik novel menurut Lucien Goldmann adalah tema, alur/plot, latar, garis edar, penokohan, sudut pandang, dan atmosfer. adapun
unsur-unsur intrinsik dalam Dunia Tanpa
Sekolah adalah sebagai berikut :
1)
Tema
Adalah Akar cerita
atau gagasan utama yang sekaligus memaknai keseluruhan isi cerita adalah sebagai berikut :
Tema Dunia Tanpa Sekolah adalah Edukasi (pendidikan). Dilihat dari
tokoh utamanya, M. Izza A, dikisahkan sebagai remaja yang tidak
suka terhadap dunia pendidikan Formal. Karena ia tidak suka dengan segala sesuatu yang mengurung kebebasan berpikir dan menganggap sekolah formal adalah sebuah penjara serta lebih yakin bisa menciptakan
sekolahnya sendiri. Seperti dalam kutipan berikut :
Dan aku
hanya ingin bebas! Sekolah seperti penjara dalam ketidak jelasan. Kalau ingin
lebih jelas, Aku bisa menciptakan sekolah ku sendiri. (M. Izza A, 2007 ; Hal
31).
“Bagaimana
pun Aku hanya akan mematuhi apa yang aku inginkan! Orang lain sama sekali tidak
berhak menentukan pilihan hidupku! Siapa pun dia! Bahkan Presiden sekali pun!
Selama Allah tidak melarang ku untuk itu!” “Dan Allah, Tidak akan pernah
melarangku untuk keluar dari sekolah! Apalagi, yang ku lakukan adalah berusaha
menyejahterakan ummat Islam dengan menulis buku-buku dan novel” (M. Izza A, 2007
; Hal 91).
2)
Alur/Plot
Alur adalah
jalan yang
mengembang menjadi cerita atau juga
disebut Plot sebagai berikut :
Alur yang
digunakan dalam novel Dunia Tanpa
Sekolah adalah alur maju. Alurnya terbagi ke dalam awalan,
konflik, klimaks, dan leraian. Adapun alur novel ini adalah sebagai berikut :
a)
Perkenalan :“Waktu
belum sekolah, Aku selalu mengikuti ibu ketempat bekerjanya di TK Dharma Wanita”.
(M. Izza A, 2007 ; Hal 17)
b) “Kemudian, aku harus memasuki masa-masa awal Sekolah Dasar yang lebih tidak
menyenangkan lagi”.( M. Izza A, 2007 ; Hal 17)
c) “Waktu terus bergulir, Aku pun menginjak sekolah menengah pertama”. (M.
Izza A, 2007 ; Hal 24)
d) Awal menuju Klimak “Ketika akhirnya memasuki kelas terakhir SMP, pilihan
hidupku tampak semakin jelas dan gambalang”. “ Aku mulai suka menulis”. (M.
Izza A, 2007 ; Hal 25)
e) Klimaks “Pertengkaran itu menyakitkan seluruh hati anggota keluarga dengan
alasan masing-masing. Fairus-adik bungsu ku dengan wajah lesu menekuri lantai
tempat bangkai weker oranye berserakan. Nuril-adik keduaku berteriak tentang
mengapa ayah begitu tega merusak hadiah ulang tahunnya. Alih-alih menanggapi
kesedihan kedua anaknya, ayah mulai berurusan dengan barang-barang didapur”.
(Hal 32-34)
f) Anti Klimak “Sekarang kami telah memberimu kebebasan untuk memilih”.
Kata-kata ayah seakan mempertegas (M. Izza A, 2007 ; Hal 160)
3)
Garis Edar.
Alur kecil yang fungsinya mempertemukan para tokoh sebagai berikut :
a)
Waktu belum
sekolah, Aku selalu mengikuti ibu ketempat bekerjanya di TK Dharma Wanita. (M.
Izza A, 2007 ; Hal 17)
Adalah bagian antara sang tokoh dengan ibunya
b)
“Bu Indri
tidak seperti guruku dikelas dua sejak saat itu selalu menganggap ku sebagai
anak yang patut dicontoh,” (M. Izza A, 2007 ; hal 20)
Adalah
bagian antara sang tokoh dengan ibu gurunyanya
c)
“Pertengkaran
itu menyakitkan seluruh hati anggota keluarga dengan alasan masing-masing.
Fairus-adik bungsu ku dengan wajah lesu menekuri lantai tempat bangkai weker
oranye berserakan. Nuril-adik keduaku berteriak tentang mengapa ayah begitu
tega merusak hadiah ulang tahunnya. Alih-alih menanggapi kesedihan kedua
anaknya, ayah mulai berurusan dengan barang-barang didapur”. (M. Izza A, 2007 ;
Hal 32-34)
Adalah
bagaian kecil yang menghubungkan sang tokoh dengan keluarganya.
4)
Latar.
Adalah tempat di mana tokoh melaksanakan tugasnya
dalam rangka keseluruhan cerita. Latar dibagi dua, yaitu secara geografis dan
secara antropologis.
a)
Latar Tempat
(Geografis).
Secara geografis berarti tempat secara materi seperti
di rumah, di kantor, dan sebagainya.
·
TK Dharma
Wanita
“Waktu belum
Sekolah, Aku selalu mengikuti ibu ketempat kerjanya di TK Dharma Wanita” (M.
Izza A, 2007 ; Hal 17)
·
TK Aisyah
Dan dengan
tujuan melatih ku mandiri, aku menyebrang ke TK Aisyah. Meskipun kurang
menyenangkan, Masa-masa TK (masa yang seharusnya dipergunakan untuk bersenang
hati) berhasil ku lewati
·
Sekolah
“Bu Indri
tidak seperti guruku dikelas dua sejak saat itu selalu menganggap ku sebagai
anak yang patut dicontoh,” (M. Izza A, 2007 ; hal 20)
· Rumah
“Pertengkaran
itu menyakitkan seluruh hati anggota keluarga dengan alasan masing-masing.
Fairus-adik bungsu ku dengan wajah lesu menekuri lantai tempat bangkai weker
oranye berserakan. Nuril-adik keduaku berteriak tentang mengapa ayah begitu
tega merusak hadiah ulang tahunnya. Alih-alih menanggapi kesedihan kedua
anaknya, ayah mulai berurusan dengan barang-barang didapur”. (M. Izza A, 2007 ;
Hal 32-34)
·
Toko
Gramedia Solo
“Dikasir,
kulihat ibu telah menghabiskan tujuh ratus lima pulh ribu rupiah untuk
membelikanku semua ini”. (M. Izza A, 2007 ; hal 122. )
·
Rumah Sakit
“Waktu
akhirnya suster memanggil namaku, dengan gugup aku mengikuti ibu”. (M. Izza A, 2007
; Hal 118)
b)
Latar
Kebudayaan (Antropologi)
Latar antropologis berarti lingkungan sosial budaya,
moral etika, budaya tradisi, pemikiran, dan lain-lain.
·
Jawa Solo
Keluarga
eyang yang satu ini adalah dari pihak ayahku. Eyang perempuan sering dipanggil
mae oleh para cucu dan anaknya. (M. Izza A, 2007 ; Hal 131)
·
Kritis.
“Buku- buku
tentang pendidikan radikal, seperti juga buku-buku fiksi yang aku beli dari
Solo, telah habis ku baca. Buku-buku itu telah membenarkan semua hal yang aku
lakukan selama ini. M. Izza A, 2007 ; hal
127)
“Bu Indri
tidak seperti guruku dikelas dua sejak saat itu selalu menganggap ku sebagai
anak yang patut dicontoh,” (hal 20)
5)
Tokoh
Tokoh Adalah ciptaan
yang merupakan pelaksana cerita. Tokoh dibagi menjadi dua, yaitu tokoh utama
dan tokoh pendukung. Menurut karakternya, tokoh berkarakter baik disebut
protagonis, tokoh berkarakter sebaliknya disebut antagonis. Tokoh-tokoh
dalam novel ini yaitu :
a)
Tokoh Utama
· M. Izza Ahsin
· Pak Mahfud (Ayah Izza)
· Ibu Izza
· Fairus (adik bungsu Izza)
· Nuril (adik kedua Izza)
b)
Pembantu
· Bu Indri (Guru Izza)
· Mbak Lina (sepupu Izza)
· Kepala sekolah
· Bu Nong (Guru BK)
· Pak Huri (Guru BK)
· Firman (Kawan Izza)
· Azizah
· Mae (Eyang Izza)
6)
Sudut
Pandang Pengarang.
Sudut
pandang pengarang dalam novel ini adalah Orang Pertama Pelaku Utama terlihat
dari setiap kata yang menyebutkan tokoh utama menggunakan kata ganti “Aku”.
Berikut Kutipannya :
“Waktu belum
Sekolah, Aku selalu mengikuti ibu
ketempat kerjanya di TK Dharma Wanita” (M. Izza A, 2007 ; Hal 17)
7)
Atmosfer (situasi)
Yaitu situasi tokoh seperti suasana hati, pikiran,
atau juga keadaan sekitarnya dan situasi
terkandung, namun ada beberapa asmosfir dalam novel Dunia Tanpa Sekolah adalah sebagai berikut :
1)
“Pertengkaran
itu menyakitkan seluruh hati anggota keluarga dengan alasan masing-masing.
Fairus-adik bungsu ku dengan wajah lesu menekuri lantai tempat bangkai weker
oranye berserakan. Nuril-adik keduaku berteriak tentang mengapa ayah begitu
tega merusak hadiah ulang tahunnya. Alih-alih menanggapi kesedihan kedua
anaknya, ayah mulai berurusan dengan barang-barang didapur”. (M. Izaa.A, 2007 ;
Hal 32-34)
2)
“Waktu
akhirnya suster memanggil namaku, dengan gugup aku mengikuti ibu”. (M. Izza A, 2007
; Hal 118)
3)
“Sekarang
kami telah memberimu kebebasan untuk memilih”. Kata-kata ayah seakan
mempertegas (M. Izza A, 2007 ; Hal 160)
b. Unsur
Ekstrinsik.
1)
Nilai Sosial
Nilai Sosial
yang terkandung dalam novel Dunia Tanpa
Sekolah adalah sebagai berikut :
a)
“Pertengkaran
itu menyakitkan seluruh hati anggota keluarga dengan alasan masing-masing.
Fairus-adik bungsu ku dengan wajah lesu menekuri lantai tempat bangkai weker
oranye berserakan. Nuril-adik keduaku berteriak tentang mengapa ayah begitu
tega merusak hadiah ulang tahunnya. Alih-alih menanggapi kesedihan kedua
anaknya, ayah mulai berurusan dengan barang-barang didapur”.
2)
Budaya
Nilai Budaya
yang terkandung dalam novel Dunia Tanpa
Sekolah adalah sebagai berikut :
a.
Membaca
·
Ayah juga
sangat antusias karena menganggap pengisi liburan yang paling baik adalah
dengan membaca buku. (Hal 121, paragraf 2)
b.
Belajar dan Menulis
· Sementara itu, diluar sepuluh jam tersebut , aku terus memperbanyak
wawasanku tentang sastra dan dunia tulis
c.
Berjuang
sebelum Kalah
· Namun, ada perbedaan antara manusia yang mendapatkan deraan lalu menyerah
dan putus asa, dengan manusia yang menyikapinya secara positif untuk kemudian
bangun dan memperbaiki.
3)
Pendidikan
Nilai
Pendidikan yang terkandung dalam novel Dunia
Tanpa Sekolah adalah sebagai berikut :
·
Kalau saja
dia tahu bahwa tujuan hidup ku adalah belajar sepanjang hayat , bukan Cuma
belajar Sembilan tahun. (Hal 192 parafrar 2)
4)
Agama
Nilai Agama
terkandung dalam novel Dunia Tanpa
Sekolah adalah sebagai berikut :
a.
Taat Pada
Tuhan
·
Meninggalkan
sekolah bukan berarti meninggalkan Allah, Bukan berarti menjadi kafir atau
berpaling dari Agama (M. Izza A, 2007 ; hal 28)
B. Kajian
Sosiologi Sastra
Kajian sosiologi sastra, dalam makalah ini ruang
lingkupnya terbatas pada kajian sosiologi karya sastra membahas (1) sastra
sebagai dokumen sosial, sebagai potret kenyataan sosial; (2) dokumen sosial
sastra dipakai untuk menguraikan ikhtisar sejarah sosial; (3) penelusuran
tipe-tipe sosial; dan (4) perlunya pendekatan linguistik.
a. Sastra sebagai dokumen sosial, sebagai potret kenyataan
sosial
Konflik sosial yang terjadi dalam novel ini antara
lain:
1)
Pandangan
tokoh utama yang mengalami perubahan terhadap dunia pendidikan yang tidak
memberi kejelasan.
2)
Usaha tokoh utama untuk keluar dari sekolah formal dan membuat sekolahnya sendiri yang lebih bebas untuk belajar yang tidak
mendapatkan izin oleh orang tuanya
Tokoh Izza semakin menemukan jalan hidupnya dan sementara itu sekolah seperti
menghalanginya untuk menggapai impiannya itu.
· “Ketika akhirnya memasuki kelas terakhir SMP, pilihan hidupku tampak
semakin jelas dan gambalang”. “ Aku mulai suka menulis”. (M. Izza A, 2007
; Hal 25)
· “Dan aku hanya ingin bebas! Sekolah seperti penjara dalam ketidak jelasan.
Kalau ingin lebih jelas, Aku bisa menciptakan sekolah ku sendiri”. (M. Izza A,
2007 ; Hal 31).
b.
Sastra sebagai Pengurai Ikhtisar Sejarah Sosial
M. Izza
Ahsin adalah Kisah nyata seorang anak usia 15 Tahun yang terpenjara oleh sekolah formal.
diterbitkan
tahun 2007.
Penulisnya, M. Izza Ahsin, adalah remaja berusia 15 tahun yang terpenjara oleh dinamika sekolah formal yang memangkas kreatifitasnya
untuk belajar dengan caranya, ia pun mengulas sejarah dirinya hingga dapat menulis
novel Dunia Tanpa Sekolah yang berhubungan mengenai realita pendidikan masa kini.
c.
Penelusuran tipe-tipe Sosial
Hegemoni yang ditunjukkan dalam novel ini sangat terlihat, serta kritime yang dilakukan oleh tokoh amatlah kental, yaitu
adanya pengekangan terhadap metode
pembelajaran dikelas adalah bentuk
”penghambatan” terhadap anak yang memiliki cita-cita yang jelas sehingga lahirlah
pemikiran yang memandang dunia tanpa sekolah.
Kelas sosial
masyarakat dalam novel ini adalah kelas sosial masa modrent yang pada
umumnya sangat memegang teguh pentingnya pendidikan sekolah formal. Namun dalam sebuah keluarga Izza ada keluarga yang sangat saling
menyayangi dan mendukung satu sama lain.
d.
Karya Sastra dari Segi Linguistik
Karya sastra ini dicetak pada tahun 2007 dari bahasa penulisannya dapat
kita lihat telah menggunakan EYD yang baik dan benar hanya dalam beberapa
kutipan dialog yang sedikit menggunakan bahasa keseharian dan nama-nama
kedaerahan dalam memberi gelar seseorang seperti “ Mae “ merupakan bahasa jawa
yang digunakan sebagai kata ganti Ibu.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pada novel Dunia
Tanpa Sekolah terdapat begitu banyak karakteristik masyarakat yang terlihant :
Kehidupan sosial yang tergambarkan dalam novel Dunia Tanpa Sekolah adalah penuh dengan pegelutan Cinta keluarga, Peselisihan keluarga, Logika,
Kritis. Sisi
kehidupan yang diambil adalah ketika seorang manusia melewati ”arus lain” dan
berusaha menjalani apa yang ia anggap benar dan bertanggung jawab terhadap
pilihannya. Yang terjadi pada kehidupan yang seperti itu –seperti yang dialami
oleh M Izza Ahsin—Sebuah upaya untuk menyakinkan
Dunia tentang apa yang ia yakini.
Kehidupan sosial yang ditampilkan dalam Dunia Tanpa Sekolah memiliki Kesamaan dengan kehidupan sosial masyarakat Indonesia saat ini. Namun, masih beberapa orang yang begitu berani melawan arus dengan
mempertanggung jawabkan pilihannya seperti Tokoh Utama. Serta dewasa ini dapat masih
kita jumpai bagaimana metode pembelajaran yang mengekang dikelas-kelas sekolah
formal masih terjadi dan tidak menutup terjadinya sebuah diskriminas kepada
murid yang memcoba kritis. Tidak heran
begitu banyak anak Indonesia yang masih was-was menjalani ujian sekolah bahkan
berani meyontek dan berbuat tidak jujur.
B. Saran
Bacaan ini membutuhkan
kebijaksanaan untuk memahami nilai yang terkandung didalamnya dari segala sudut
yang ada. Namun pergerakan nalar kita akan berbeda setiap kali menerima sebuah
pemahaman. Semoga beberapa pembahasan makalah ini dapat bermanfaat kritik dan
saran masih sangat kami butuhkan.
Sinopsis Novel
Dunia Tanpa
Sekolah, mana kala sekolah sebagai
sindrom yang mengalir keseluruh tubuh Izza melalui
peredaran
darah dan menekan otaknya. Ditambah lagi dengan guru yang suka menghancurkan
mental dengan mempermalukan murid didepan umum yang tidak menggunakan penggaris
untuk mengajar
tapi sebagai alat untuk menghajar. Membuat kelas menjadi suram seperti kuburan
dengan dalil menciptakan suasana kondusif.
Lengkapnya M.
Izza Ahsin seorang anak yang masih berusaha 15 tahun pada al-kisahnya merasa
seperti terpenjara oleh sekolah. Dimana setiap anak yang spesial memiliki
impian malah menjadi terkungkung oleh sekolah formal yang hanya mencetak
ijazah. Sebagai remaja yang ingin belajar dalam arti yang sesungguhnya ia tidak
mau terpaku pada dinamika sekolah yag sangat statis.
Dan pada akhirnya Izza memutuskan untuk keluar dari
sekolah formal dengan niatan menciptakan sekolahnya sendiri, tidak hanya wajib
sekolah sembilan tahun akan tetapi untuk seumur hayatnya. Ia memilih melawan
arus dengan memcoba membebaskan dirinya meski mendapatkan tantangan berat dari
orang-orang yang menyayanginya (keluarga) juga dari luar yang menganggap anak
yang berhenti sekolah akan tetapi ingin tetap belajar adalah hal yang mustahil
bahkan lelucon. Sedangkan, anak yang sekolah tapi tidak belajar adalah hal yang
sah-sah saja.
DAFTAR PUSTAKA
·
Ahsin,
M. Izza. 2007. Dunia Tanpa Sekolah.
Bandung: Mizan
·
Wellek, Rene
dan Austin Warren. 1999. Teori Kesusastraan. Jakarta: Penerbit.
