Kamis, 03 April 2014

Apresiasi Prosa "Dunia Tanpa Sekolah"

BAB I
 PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dunia Tanpa Sekolah Kisah nyata seorang anak usia 15 Tahun yang terpenjara oleh sekolah formal. diterbitkan tahun 2007. Penulisnya, M. Izza Ahsin, adalah remaja berusia 15 tahun yang terpenjara oleh dinamika sekolah formal yang memangkas kreatifitasnya untuk belajar dengan caranya, ia pun mengulas sejarahnya hingga dapat  menerbitkan novel ini. Tentu saja novel ini bukan karya non-fiksi walaupun ada beberapa kalimat-kalimat penggugah yang akan menyentuh idealis para pembaca yang bersifat fantastis serta akan sedikit menabrak paradikma berpikir kita yang selama ini menganggap sekolah formal adalah tempat yang paling menentukan untuk mengangkat drajad manusia dalam segi figuriatas masyarakat modrent.
Dengan mengkaji sosiologi sastra novel ini, kita dapat mengetahui gambaran kehidupan tokoh dan masyarakat sekitar serta nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Sebagai remaja yang hidup di lingkungan sosial masyarakat dan dianggap meyimpang karena ingin melawan arus dengan belajar menggunakan caranya, bahkan hingga meninggalkah bangku sekolah yang menurutnya menyita waktu belajarnya. Ia terus mengejar mimpinya.
Teori yang cocok untuk mengkaji hal tersebut adalah teori sosiologi sastra dari Rene Wellek dan Austin Warren. Teori sosiologi sastra dari dua tokoh tersebutlah yang digunakan dalam makalah ini melalui karya yang sedikitnya merupakan beografi penulis.
B. Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui penggambaran kehidupan dalam novel Dunia Tanpa Sekolah, khususnya untuk mengetahui hubungan sosial tokoh utama dengan lingkungan yang ada disekitarnya. kemudian membansingkannya dengan kehidupan sosial yang ada saat ini.
C. Perumusan Masalah
  1. Kajian sosial yang tergambarkan lewat unsur dalam novel Dunia Tanpa Sekolah?
  2. Kajian kehidupan sosial masyarakat dalam Dunia Tanpa Sekolah bandingan dengan masyarakat masa kini?
 
BAB II
Landasan Teori
A.    Sosiologi Sastra Wellek dan Warren
Konsep sosiologi sastra yang dikemukakan Wellek dan Warren melibatkan sosiologi pengarang, sosiologi karya dan sosiologi pembaca. Makalah ini menitik beratkan kepada sosiologi karya sastra. Sosiologi karya sastra maksudnya adalah isi karya sastra, tujuan serta hal-hal lain yang tersirat dalam karya sastra itu sendiri dan yang berkaitan dengan masalah-masalah sosial. Sosiologi karya mencakup beberapa pendekatan, pertama, pendekatan yang mempelajari sastra sebagai dokumen sosial, sebagai potret kenyataan sosial. Kedua, dokumen sosial sastra dipakai untuk menguraikan ikhtisar sosial. Ketiga, penelusuran tipe-tipe sosial. Keempat, perlunya pendekatan linguistik.

B.     Strukturalisme Genetik
Sebelum melakukan pengkajian sosiologi sastra, sebelumnya dilakukan pengkajian strukturalisme terlebih dahulu. Strukturalisme mengkaji unsur-unsur pembentuk karya sastra.

Unsur-unsur intrinsik novel menurut Lucien Goldmann adalah :
1)        Akar cerita atau gagasan utama yang sekaligus memaknai keseluruhan isi cerita; disebut juga tema.
2)        Plot; alur cerita, alur yang mengembang menjadi cerita.
3)        Garis edar, yaitu alur kecil yang fungsinya mempertemukan para tokoh.
4)        Latar adalah tempat di mana tokoh melaksanakan tugasnya dalam rangka keseluruhan cerita. Latar dibagi dua, yaitu secara geografis dan secara antropologis. Secara geografis berarti tempat secara materi seperti di rumah, di kantor, dan sebagainya. Latar antropologis berarti lingkungan sosial budaya, moral etika, budaya tradisi, pemikiran, dan lain-lain.
5)        Penokohan, yaitu tokoh-tokoh ciptaan yang merupakan pelaksana cerita. Tokoh dibagi menjadi dua, yaitu tokoh utama dan tokoh pendukung. Menurut karakternya, tokoh berkarakter baik disebut protagonis, tokoh berkarakter sebaliknya disebut antagonis.
6)        Sudut pandang yang digunakan penulis.
7)        Atmosfer, yaitu situasi tokoh seperti suasana hati, pikiran, atau juga keadaan sekitarnya.

C.    Moral
Moral (Bahasa Latin Moralitas) adalah istilah manusia menyebut kemanusia atau orang lainnya dalam tindakan yang memiliki nilai positif. Manusia yang tidak memiliki moral disebut amoral artinya dia tidak bermoral dan tidak memiliki nilai positif dimata manusia lainnya. Sehingga moral adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh manusia. Moral secara ekplisit adalah hal-hal yang berhubungan dengan proses sosialisasi individu tanpa manusia tidak bisa melakukan proses sosialisasi. Moral dalam zaman sekarang memiliki nilai implisit karena banyak orang yang memiliki moral atau skap amoral itu dari sudut pandang yang sempit. Moral itu sifaf dasar yang diajarkan disekolah-sekolah dan manusia harus memiliki moral jika ia ingin dihormati sesamanya.
Moral adalah nilai keabsolutan dalam kehidupan bermasyarakat secara utuh. Penilaian terhadap moral diukur dari kebudayaan masyarakat setempat. Moral adalah perbuatan atau tingkah laku atau ucapan seseorang dalam berinteraksi dengan manusia. Apabila dilakukan seseorang itu sesuai dengan nilai rasa yang berlaku di masyarakat tersebut dan dapat diterima serta menyenangkan lingkungan masyarakatnya, maka orang itu dinilai memiliki moral yang baik, begitu juga sebaiknya. Moral adalah produk dari budaya dan agama. Setiap budaya memiliki standar moral yang berbeda-beda sesuai dengan sistem nilai yang berlaku dan telah terbangun sejak lama.
D.    Sosiologi sastra
menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1989; 855) sosiologi sastra merupakan pengetahuan tentang sifat dan perkembangan masyarakat mengenai sastra, karya, para, kritikus, dan sejarawan yang terutama mengungkapkan pengarang yang dipengaruhi oleh status lapisan masyarakat tempat ia berasal, ideologi polotik dan sosialnya, kondisi ekonomi serta halayak yang ditujunya. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan kemasyarakatan umum yang merupakan hasil terakhir dari pada perkembangan ilmu pengetahuan. Sosiologi lahir pada saat-saat terakhir perkembangan ilmu pengetahuan, oleh karena sosiologi didasarkan pada kemajuan-kemajuan yang telah dicapai ilmu-ilmu pengetahuan lainnya.
Camte berkata bahwa sosiologi dibentuk berdasarkan pengamatan dan tidak pada spekulasi-spekulasi perihal keadaan masyarakat dan hasil-hasil observasi tersebut harus disusun secara sistematis dan motodologis (Sukamto, 1982: 4).
Sastra dapat dipandang dari sebagai suatu gejala sosial. Sastra yang ditulis pada suatu kurun waktu tertentu langsung berkaitan dengan norma-nora dan adat istiadat zaman itu. Pengarang mengubah karyanya selaku seorang warga masyarakat pula (Luxenburg, Bal, dan Willem G. W. Terjemahan Dick Hartoko. 1084: 23).
Pendekatan sosiologi sastra jelas merupakan hubungan antara sastra dan masyarakat, literature is an expreesion of society, artinya sastra adalah ungkapan perasaan masyarakat. Maksudnya masyarakat mau tidak mau harus mencerminkan dan mengekspresikan hidup (wellek dan Werren, 1990: 110).
Hubungan yang nyata antara sastra dan masyarakat oleh Wellek dan Werren dapat diteliti melalui :sosiologi pengarang, sosiologi karya sastra dan sosiologi pembaca.


BAB III
 PEMBAHASAN
A.      Kajian Struktural
a.     Unsur Instrinsik
Unsur intrinsik novel menurut Lucien Goldmann adalah tema, alur/plot, latar, garis edar, penokohan, sudut pandang, dan atmosfer. adapun unsur-unsur intrinsik dalam Dunia Tanpa Sekolah adalah sebagai berikut :

1)   Tema
Adalah Akar cerita atau gagasan utama yang sekaligus memaknai keseluruhan isi cerita adalah sebagai berikut :

Tema Dunia Tanpa Sekolah adalah Edukasi (pendidikan). Dilihat dari tokoh utamanya, M. Izza A, dikisahkan sebagai remaja yang tidak suka terhadap dunia pendidikan Formal. Karena ia tidak suka dengan segala sesuatu yang mengurung kebebasan berpikir dan menganggap sekolah formal adalah sebuah penjara serta lebih yakin bisa menciptakan sekolahnya sendiri. Seperti dalam kutipan berikut :

Dan aku hanya ingin bebas! Sekolah seperti penjara dalam ketidak jelasan. Kalau ingin lebih jelas, Aku bisa menciptakan sekolah ku sendiri. (M. Izza A, 2007 ; Hal 31).

“Bagaimana pun Aku hanya akan mematuhi apa yang aku inginkan! Orang lain sama sekali tidak berhak menentukan pilihan hidupku! Siapa pun dia! Bahkan Presiden sekali pun! Selama Allah tidak melarang ku untuk itu!” “Dan Allah, Tidak akan pernah melarangku untuk keluar dari sekolah! Apalagi, yang ku lakukan adalah berusaha menyejahterakan ummat Islam dengan menulis buku-buku dan novel” (M. Izza A, 2007 ; Hal 91).

2)   Alur/Plot
Alur adalah jalan yang mengembang menjadi cerita atau juga disebut Plot sebagai berikut :

Alur yang digunakan dalam novel Dunia Tanpa Sekolah adalah alur maju. Alurnya terbagi ke dalam awalan, konflik, klimaks, dan leraian. Adapun alur novel ini adalah sebagai berikut :
a)    Perkenalan :“Waktu belum sekolah, Aku selalu mengikuti ibu ketempat bekerjanya di TK Dharma Wanita”. (M. Izza A, 2007 ; Hal 17)
b)   “Kemudian, aku harus memasuki masa-masa awal Sekolah Dasar yang lebih tidak menyenangkan lagi”.( M. Izza A, 2007 ; Hal 17)
c)    “Waktu terus bergulir, Aku pun menginjak sekolah menengah pertama”. (M. Izza A, 2007 ; Hal 24)
d)   Awal menuju Klimak “Ketika akhirnya memasuki kelas terakhir SMP, pilihan hidupku tampak semakin jelas dan gambalang”. “ Aku mulai suka menulis”. (M. Izza A, 2007 ; Hal 25)
e)    Klimaks “Pertengkaran itu menyakitkan seluruh hati anggota keluarga dengan alasan masing-masing. Fairus-adik bungsu ku dengan wajah lesu menekuri lantai tempat bangkai weker oranye berserakan. Nuril-adik keduaku berteriak tentang mengapa ayah begitu tega merusak hadiah ulang tahunnya. Alih-alih menanggapi kesedihan kedua anaknya, ayah mulai berurusan dengan barang-barang didapur”. (Hal 32-34)
f)    Anti Klimak “Sekarang kami telah memberimu kebebasan untuk memilih”. Kata-kata ayah seakan mempertegas (M. Izza A, 2007 ; Hal 160)
3)   Garis Edar.
Alur kecil yang fungsinya mempertemukan para tokoh sebagai berikut :
a)      Waktu belum sekolah, Aku selalu mengikuti ibu ketempat bekerjanya di TK Dharma Wanita. (M. Izza A, 2007 ; Hal 17)
Adalah bagian antara sang tokoh dengan ibunya
b)      “Bu Indri tidak seperti guruku dikelas dua sejak saat itu selalu menganggap ku sebagai anak yang patut dicontoh,” (M. Izza A, 2007 ; hal 20)
Adalah bagian antara sang tokoh dengan ibu gurunyanya

c)      “Pertengkaran itu menyakitkan seluruh hati anggota keluarga dengan alasan masing-masing. Fairus-adik bungsu ku dengan wajah lesu menekuri lantai tempat bangkai weker oranye berserakan. Nuril-adik keduaku berteriak tentang mengapa ayah begitu tega merusak hadiah ulang tahunnya. Alih-alih menanggapi kesedihan kedua anaknya, ayah mulai berurusan dengan barang-barang didapur”. (M. Izza A, 2007 ; Hal 32-34)
Adalah bagaian kecil yang menghubungkan sang tokoh dengan keluarganya.


4)   Latar.
Adalah tempat di mana tokoh melaksanakan tugasnya dalam rangka keseluruhan cerita. Latar dibagi dua, yaitu secara geografis dan secara antropologis.

a)      Latar Tempat (Geografis).
Secara geografis berarti tempat secara materi seperti di rumah, di kantor, dan sebagainya.

·         TK Dharma Wanita
“Waktu belum Sekolah, Aku selalu mengikuti ibu ketempat kerjanya di TK Dharma Wanita” (M. Izza A, 2007 ; Hal 17)
·         TK Aisyah
Dan dengan tujuan melatih ku mandiri, aku menyebrang ke TK Aisyah. Meskipun kurang menyenangkan, Masa-masa TK (masa yang seharusnya dipergunakan untuk bersenang hati) berhasil ku lewati
·         Sekolah
“Bu Indri tidak seperti guruku dikelas dua sejak saat itu selalu menganggap ku sebagai anak yang patut dicontoh,” (M. Izza A, 2007 ; hal 20)
·       Rumah
“Pertengkaran itu menyakitkan seluruh hati anggota keluarga dengan alasan masing-masing. Fairus-adik bungsu ku dengan wajah lesu menekuri lantai tempat bangkai weker oranye berserakan. Nuril-adik keduaku berteriak tentang mengapa ayah begitu tega merusak hadiah ulang tahunnya. Alih-alih menanggapi kesedihan kedua anaknya, ayah mulai berurusan dengan barang-barang didapur”. (M. Izza A, 2007 ; Hal 32-34)

·         Toko Gramedia Solo
“Dikasir, kulihat ibu telah menghabiskan tujuh ratus lima pulh ribu rupiah untuk membelikanku semua ini”. (M. Izza A, 2007 ; hal 122. )
·         Rumah Sakit
“Waktu akhirnya suster memanggil namaku, dengan gugup aku mengikuti ibu”. (M. Izza A, 2007 ; Hal 118)

b)      Latar Kebudayaan (Antropologi)
Latar antropologis berarti lingkungan sosial budaya, moral etika, budaya tradisi, pemikiran, dan lain-lain.

·         Jawa Solo
Keluarga eyang yang satu ini adalah dari pihak ayahku. Eyang perempuan sering dipanggil mae oleh para cucu dan anaknya. (M. Izza A, 2007 ; Hal 131)
·         Kritis.
“Buku- buku tentang pendidikan radikal, seperti juga buku-buku fiksi yang aku beli dari Solo, telah habis ku baca. Buku-buku itu telah membenarkan semua hal yang aku lakukan selama ini. M. Izza A, 2007 ;  hal 127)

“Bu Indri tidak seperti guruku dikelas dua sejak saat itu selalu menganggap ku sebagai anak yang patut dicontoh,” (hal 20)


 5)   Tokoh
Tokoh Adalah ciptaan yang merupakan pelaksana cerita. Tokoh dibagi menjadi dua, yaitu tokoh utama dan tokoh pendukung. Menurut karakternya, tokoh berkarakter baik disebut protagonis, tokoh berkarakter sebaliknya disebut antagonis. Tokoh-tokoh dalam novel ini yaitu :

a)    Tokoh Utama
·      M. Izza Ahsin
·      Pak Mahfud (Ayah Izza)
·      Ibu Izza
·      Fairus (adik bungsu Izza)
·      Nuril (adik kedua Izza)
b)   Pembantu
·      Bu Indri (Guru Izza)
·      Mbak Lina (sepupu Izza)
·      Kepala sekolah
·      Bu Nong (Guru BK)
·      Pak Huri (Guru BK)
·      Firman (Kawan Izza)
·      Azizah
·      Mae (Eyang Izza)

6)   Sudut Pandang Pengarang.
Sudut pandang pengarang dalam novel ini adalah Orang Pertama Pelaku Utama terlihat dari setiap kata yang menyebutkan tokoh utama menggunakan kata ganti “Aku”. Berikut Kutipannya :

“Waktu belum Sekolah, Aku selalu mengikuti ibu ketempat kerjanya di TK Dharma Wanita” (M. Izza A, 2007 ; Hal 17)

7)   Atmosfer (situasi)
Yaitu situasi tokoh seperti suasana hati, pikiran, atau juga keadaan sekitarnya dan situasi terkandung, namun ada beberapa asmosfir dalam novel Dunia Tanpa Sekolah adalah sebagai berikut :

1)   “Pertengkaran itu menyakitkan seluruh hati anggota keluarga dengan alasan masing-masing. Fairus-adik bungsu ku dengan wajah lesu menekuri lantai tempat bangkai weker oranye berserakan. Nuril-adik keduaku berteriak tentang mengapa ayah begitu tega merusak hadiah ulang tahunnya. Alih-alih menanggapi kesedihan kedua anaknya, ayah mulai berurusan dengan barang-barang didapur”. (M. Izaa.A, 2007 ; Hal 32-34)

2)   “Waktu akhirnya suster memanggil namaku, dengan gugup aku mengikuti ibu”. (M. Izza A, 2007 ; Hal 118)


3)   “Sekarang kami telah memberimu kebebasan untuk memilih”. Kata-kata ayah seakan mempertegas (M. Izza A, 2007 ; Hal 160)
 

b.    Unsur Ekstrinsik.

1)      Nilai Sosial
Nilai Sosial yang terkandung dalam novel Dunia Tanpa Sekolah adalah sebagai berikut :

a)      “Pertengkaran itu menyakitkan seluruh hati anggota keluarga dengan alasan masing-masing. Fairus-adik bungsu ku dengan wajah lesu menekuri lantai tempat bangkai weker oranye berserakan. Nuril-adik keduaku berteriak tentang mengapa ayah begitu tega merusak hadiah ulang tahunnya. Alih-alih menanggapi kesedihan kedua anaknya, ayah mulai berurusan dengan barang-barang didapur”.

2)      Budaya
Nilai Budaya yang terkandung dalam novel Dunia Tanpa Sekolah adalah sebagai berikut :

a.    Membaca
·         Ayah juga sangat antusias karena menganggap pengisi liburan yang paling baik adalah dengan membaca buku. (Hal 121, paragraf 2)

b.    Belajar dan Menulis
·       Sementara itu, diluar sepuluh jam tersebut , aku terus memperbanyak wawasanku tentang sastra dan dunia tulis

 
c.    Berjuang sebelum Kalah
·       Namun, ada perbedaan antara manusia yang mendapatkan deraan lalu menyerah dan putus asa, dengan manusia yang menyikapinya secara positif untuk kemudian bangun dan memperbaiki.



3)      Pendidikan
Nilai Pendidikan yang terkandung dalam novel Dunia Tanpa Sekolah adalah sebagai berikut :
·         Kalau saja dia tahu bahwa tujuan hidup ku adalah belajar sepanjang hayat , bukan Cuma belajar Sembilan tahun. (Hal 192 parafrar 2)


4)      Agama
Nilai Agama terkandung dalam novel Dunia Tanpa Sekolah adalah sebagai berikut :
a.       Taat Pada Tuhan
·         Meninggalkan sekolah bukan berarti meninggalkan Allah, Bukan berarti menjadi kafir atau berpaling dari Agama (M. Izza A, 2007 ; hal 28)


 B.  Kajian Sosiologi Sastra
Kajian sosiologi sastra, dalam makalah ini ruang lingkupnya terbatas pada kajian sosiologi karya sastra membahas (1) sastra sebagai dokumen sosial, sebagai potret kenyataan sosial; (2) dokumen sosial sastra dipakai untuk menguraikan ikhtisar sejarah sosial; (3) penelusuran tipe-tipe sosial; dan (4) perlunya pendekatan linguistik.

a.    Sastra sebagai dokumen sosial, sebagai potret kenyataan sosial
Konflik sosial yang terjadi dalam novel ini antara lain:

1)      Pandangan tokoh utama yang mengalami perubahan terhadap dunia pendidikan yang tidak memberi kejelasan.
2)      Usaha tokoh utama untuk keluar dari sekolah formal dan membuat sekolahnya sendiri yang lebih bebas untuk belajar yang tidak mendapatkan izin oleh orang tuanya
Tokoh Izza semakin menemukan jalan hidupnya dan sementara itu sekolah seperti menghalanginya untuk menggapai impiannya itu.
·      “Ketika akhirnya memasuki kelas terakhir SMP, pilihan hidupku tampak semakin jelas dan gambalang”. “ Aku mulai suka menulis”. (M. Izza A, 2007 ;  Hal 25)
·      “Dan aku hanya ingin bebas! Sekolah seperti penjara dalam ketidak jelasan. Kalau ingin lebih jelas, Aku bisa menciptakan sekolah ku sendiri”. (M. Izza A, 2007 ; Hal 31).






b.   Sastra sebagai Pengurai Ikhtisar Sejarah Sosial
M. Izza Ahsin adalah Kisah nyata seorang anak usia 15 Tahun yang terpenjara oleh sekolah formal. diterbitkan tahun 2007. Penulisnya, M. Izza Ahsin, adalah remaja berusia 15 tahun yang terpenjara oleh dinamika sekolah formal yang memangkas kreatifitasnya untuk belajar dengan caranya, ia pun mengulas sejarah dirinya hingga dapat  menulis novel Dunia Tanpa Sekolah yang berhubungan mengenai realita pendidikan masa kini.

c.    Penelusuran tipe-tipe Sosial
Hegemoni yang ditunjukkan dalam novel ini sangat terlihat, serta kritime yang dilakukan oleh tokoh amatlah kental, yaitu adanya pengekangan terhadap metode pembelajaran dikelas adalah bentuk ”penghambatan” terhadap anak yang memiliki cita-cita yang jelas sehingga lahirlah pemikiran yang memandang dunia tanpa sekolah.
Kelas sosial masyarakat dalam novel ini adalah kelas sosial masa modrent yang pada umumnya sangat memegang teguh pentingnya pendidikan sekolah formal. Namun dalam sebuah keluarga Izza ada keluarga yang sangat saling menyayangi dan mendukung satu sama lain.
d.   Karya Sastra dari Segi Linguistik
Karya sastra ini dicetak pada tahun 2007 dari bahasa penulisannya dapat kita lihat telah menggunakan EYD yang baik dan benar hanya dalam beberapa kutipan dialog yang sedikit menggunakan bahasa keseharian dan nama-nama kedaerahan dalam memberi gelar seseorang seperti “ Mae “ merupakan bahasa jawa yang digunakan sebagai kata ganti Ibu.


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan

Pada novel Dunia Tanpa Sekolah terdapat begitu banyak karakteristik masyarakat yang terlihant :

Kehidupan sosial yang tergambarkan dalam novel Dunia Tanpa Sekolah adalah penuh dengan pegelutan Cinta keluarga, Peselisihan keluarga, Logika, Kritis. Sisi kehidupan yang diambil adalah ketika seorang manusia melewati ”arus lain” dan berusaha menjalani apa yang ia anggap benar dan bertanggung jawab terhadap pilihannya. Yang terjadi pada kehidupan yang seperti itu –seperti yang dialami oleh M Izza AhsinSebuah upaya untuk menyakinkan Dunia tentang apa yang ia yakini.
Kehidupan sosial yang ditampilkan dalam Dunia Tanpa Sekolah memiliki Kesamaan dengan kehidupan sosial masyarakat Indonesia saat ini. Namun, masih beberapa orang yang begitu berani melawan arus dengan mempertanggung jawabkan pilihannya seperti Tokoh Utama. Serta dewasa ini dapat masih kita jumpai bagaimana metode pembelajaran yang mengekang dikelas-kelas sekolah formal masih terjadi dan tidak menutup terjadinya sebuah diskriminas kepada murid yang memcoba kritis. Tidak heran begitu banyak anak Indonesia yang masih was-was menjalani ujian sekolah bahkan berani meyontek dan berbuat tidak jujur.

B.     Saran
Bacaan ini membutuhkan kebijaksanaan untuk memahami nilai yang terkandung didalamnya dari segala sudut yang ada. Namun pergerakan nalar kita akan berbeda setiap kali menerima sebuah pemahaman. Semoga beberapa pembahasan makalah ini dapat bermanfaat kritik dan saran masih sangat kami butuhkan. 

Sinopsis Novel

Dunia Tanpa Sekolah, mana kala sekolah sebagai sindrom yang mengalir keseluruh tubuh Izza melalui peredaran darah dan menekan otaknya. Ditambah lagi dengan guru yang suka menghancurkan mental dengan mempermalukan murid didepan umum yang tidak menggunakan penggaris untuk mengajar tapi sebagai alat untuk menghajar. Membuat kelas menjadi suram seperti kuburan dengan dalil menciptakan suasana kondusif.
Lengkapnya M. Izza Ahsin seorang anak yang masih berusaha 15 tahun pada al-kisahnya merasa seperti terpenjara oleh sekolah. Dimana setiap anak yang spesial memiliki impian malah menjadi terkungkung oleh sekolah formal yang hanya mencetak ijazah. Sebagai remaja yang ingin belajar dalam arti yang sesungguhnya ia tidak mau terpaku pada dinamika sekolah yag sangat statis.

Dan pada akhirnya Izza memutuskan untuk keluar dari sekolah formal dengan niatan menciptakan sekolahnya sendiri, tidak hanya wajib sekolah sembilan tahun akan tetapi untuk seumur hayatnya. Ia memilih melawan arus dengan memcoba membebaskan dirinya meski mendapatkan tantangan berat dari orang-orang yang menyayanginya (keluarga) juga dari luar yang menganggap anak yang berhenti sekolah akan tetapi ingin tetap belajar adalah hal yang mustahil bahkan lelucon. Sedangkan, anak yang sekolah tapi tidak belajar adalah hal yang sah-sah saja.


DAFTAR PUSTAKA

·         Ahsin, M. Izza. 2007. Dunia Tanpa Sekolah. Bandung: Mizan
·         Wellek, Rene dan Austin Warren. 1999. Teori Kesusastraan. Jakarta: Penerbit.